Kita ini begitu kritis. Kita sering sekali menghakimi. Ya, biksu jahat,gay jahat, heteroseksual jahat. Ini jahat,itu jahat, semuanya jahat. Itulah alasannya.

Jadi ketika kita tidak menghakimi diri sendiri, kita tidak menghakimi orang lain. Itulah sebabnya tertulis dalam alkitab, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”. Jika kita menghakimi orang lain, itu bukan berarti Tuhan menghakimi kita. Saya telah memahami hal ini sejak lama bahkan sebelum saya menjadi buddhis: jangan menghakimi, jika tidak mau dihakimi. Jika kita menghakimi orang lain, kita menghakimi diri sendiri, dan kita akan dihakimi diri kita sendiri. Jadi, berhentilah menghakimi diri sendiri.

Ada kisah kecil yang diceritakan seorang biksu Jerman kepada saya. Ia mendapatkannya dari sebuah buku Jerman yang belum diterbitkan dalam bahasa Inggris, mengenai kisah anak-anak yang mengingat pengalaman tubuh astral atau keluar dari tubuh.

salah satu kisah menariknya mengenai anak muda yang karena kecelakaan atau penyakit saat berusia 8 atau 9 tahun, meninggal di rumah sakit dan hidup kembali. Ketika ia menuturkan kisahnya saat meninggal, ia mengatakan bahwa ia mengambang di sekitar tubuhnya, lalu melayang ke desanya dan tiba di sebuah gudang, Di gudang ini ada malaikan maut, yang baru memeriksa semua orang yang meninggal. Semua orang mati pergi ke gudang ini.

“Siapa namamu?” tanya sang malaikat kepada anak itu, “Kamu seharusnya tidak kesini. kamu tidak sepatutnya mati, tapi sebelum kami mengirimmu kembali, kamu bisa tinggal disini dan melihat apa yang terjadi.”

Orang berikutnya yang datang adalah petani Jerman yang baru saja meninggal. Menurut penuturan anak ini, ia mengatakan bahwa malaikat maut menanyakan nama petani itu dan melihat ke buku catatannya ia berkata, ia berkata “Namamu terdaftar disini. Apakamu pernah membunuh siapapun? atau membunuh apapun?” Petani itu menjawab ” Mungkin satu atau dua hewan kecil.” Lalu malaikat itu berpaling ke bocah itu dan berkata, “kamu lihat, bahkan saat matipun, ia masih berbohong.” Rupanya petani ini telah membunuh begitu banyak domba dan sapi, namun ia mengatakan hanya satu atau dua. Lalu, ketika mereka sedang seperti ini, ada orang lain yang masuk melewati gudang itu dan langsung naik ke langit. Bocah itu bertanya, “Mengapa anda tidak menanyai dia apa yang dia lakukan?” malaikat itu berpaling dan mengucapkan bagian paling indah dalam kisah ini: “Lihat pria yang pergi ke surga itu. Dia tidak pernah menghakimi siapapun sepanjang hidupnya, karena itu kami tidak menghakiminya.”

Saya selalu menyukai kisah ini, itulah bagaimana bocah itu menuturkan kisah ini ketika ia terbangun. Inilah bagaimana ia menjelaskan pengalamannya. Seseorang mencapai kebahagiaan; kami tidak aka menghakiminya karena dia tidak pernah menghakimi siapapun. Anda menghakimi diri anda sendirian pada saat kematian, orang yang membaca buku itu adalah diri anda sendiri, bukan orang lain. anda tidak bisa berbohong kepada diri anda sendiri. Anda bisa mencobanya, namun tidak akan bisa. Jadi, janganlah kita menghakimi, melainkan: pintu hatiku terbuka untukmu .. . ., pintu hatiku terbuka untuk mu . . .

Iklan