Slogan ini cukup benar, karena begitu sering terjadi saat anda harus melaukan sesuatu dalam hidup, namun anda malah memikirkannya terus menerus, lalu mengeluh, “kenapa aku yang harus melakukannya? ini tidak adil”.

Persepsi yang satu itulah yang membawa ke pemikiran negatif dan anda bisa melihat bahwa “memikirkannya” adalah yang menyebabkan duka, yang benar-benar menyakitkan. “Melakukannya” sama sekali tidak masalah,

Begitu banyak ha; dalam hidup ini yang menghadapkan kita pada pilihan: mengeluhkannya atau melakukannya. Begitu banyak bagian dalam hidup ini yang berada di luar kendali kita. Dalam ajaran Buddha, ini disebut anicca,  Ketidak pastian. Inilah ajaran agung yang selalu kami enyam sejak awal kami hidup dalam tradisi wihara hutan. karena disiplin di wihara, kami tak punya banyak pilihan soal tempat kami menginap, atau buku yang kami baca, atau apapun.

kami bahkan tak bisa mengatur di mana kami tidur pada malam hari. Ajahn Chah akam mengirim kami ke tempat lain jika ia melihat kami terlalu nyaman. Ia akan bilang, “Ayo, semua orang tidur di hutan malam ini!” Jadilah kamu tidur dibawah pohon.

Kadang cuaca di wihara begitu panas, lalu tiap orang aan membuka jendela dan menanggalkan banyak bagian dari jubah supaya bisa merasakan angin sepoi-sepoi. Jika ada angin seperti itu, rasanya enak dan nyaman.

Tetapi cuaca panas tetap tak tertahankan. Suatu ketika ajahn Chah inngin mengajari para biksunya bagaimana menangani cuaca panas ini. Ia menyruh semua orang pergi ke aula tua beratap seng, setelah jam makan, “Kaliah harus membawa semua jubah kalian dan mengenakannya. Jika mau, kalian boleh membawa selimut kalian juga.”

Begitu kami berkumpul, Ajahn Chah menutup semua jendela dan menyuruh kami duduk di dalam sana selama 2 jam! Di dalam sana benar-benar panas seperti kamar sauna. Jika Amnesti Internasional mendengar perbuatan Ajahn Chah itu, mungkin ia bisa dibawa ke penngadilan kejahatan perang di Den Haag atas perbuatannya kepada para biksu.

Tetapi Ajahn Chah adalah seorang guru yang luar biasa hebat, karena ia sebenanya sedang mengajari kami, “Oke, cuaca memang panas dan tidak nyaman, tetapi menjalaninya jauh lebih mudah ketimbang memikmirkannya!” Itulah yang ia paksakanuntuk kami pelajari. Berhenti berpikir dan cukup rasakan bagaimana itu rasanya. Ketika anda masuk ke perasaan ini dan berhenti berpikir, hal itu tidak akan menjadi masalah besar lagi. Banyak masalah muncul dari pikiran yang disertai kecemasan dan ketakutan.

Seperti kisah dua malaikat maut yang bertemu di jalan. Yang satu bertan ya, “Berapa banyak yang kau bunuh dalam wabah ini?”

“Aku membunuh 50, ketakutan membunuh 300 lainnya.”

Iklan